Footer

SEJARAH : SOSOK PENYUMBANG EMAS MONUMEN NASIONAL

23.05 |



Teuku Markam adalah keturunan dari Uleebalang. Lahir tahun 1925. Ayahnya adalah Teuku Marhaban. Kampungnya Seuneudon dan Alue Capli, Panton Labu Aceh Utara.

Teuku Markam telah yatim piatu sejak umurnya 9 tahun. Stelah ditinggal oleh kedua orang yuanya Teuku Markam di asuh oleh kakaknya yang bernama Cut Nyak Putroe.

Teuku Markam pernah bersekolah di sekolah rakyat sampai kelas 4. Saat ia beranjak dewasa ia masuk wajib militer di Koeta Radja (Banda Aceh sekarang), Teuku Markam tamat dengan pangkat Letnan satu.

Setelah tamat dari militer Teuku markam bergabung dengan Tentara Rakyat Indonesia(TRI) bersama dengan Jendral Bejo, Kaharuddin Nasution, Bustanil Arifin dan lain-lain untuk ikut pertempuran di Tembung, Sumatera Utara. Saat bertugas di Sumatera Utara Teuku Markam sempat ikut mendamaikan clash antara pasukan Simbolon dengan pasukan Manaf Lubis.

Teuku Markam adalah prajurit penghubung yang mana ia di tugaskan oleh Panglima Jenderal Bejo ke Jakarta untuk bertemu pimpinan pemerintah. Lalu ia diutus lagi ke Bandung untuk menjadi ajudan JenderalGatot Soebroto. Tugas itu diemban Teuku Markam sampai Jenderal Gatot Soebroto meninggal dunia.

Jenderal Gatot Soebroto lah yang telah mempercayakan teuku markam untuk bertemu dengan bung karno. Saat itu bung karno lagi mencari seorang pengusaha pribumi yang mampu menghendel perekonomian Indonesia.

Tahun 1957, ketika Teuku Markam berpangkat kapten (NRP 12276), Ia kembali ke Aceh dan mendirikanPT Karkam. Teuku Markam sempat nermasalah dengan Teuku Hamzah (Panglima Kodam Iskandar Muda) karena ulah orang-orang yang sirik dengannya. Akibatnya Teuku Markam ditahan dan baru keluar tahun 1958. Pertentangan dengan Teuku Hamzah berhasil didamaikan oleh Sjamaun Gaharu.

Setelah Keluar dari tahanan, Teuku Markam kembali ke Jakarta dengan membawa PT Karkam. Perusahaan itu dipercaya oleh Pemerintah RI mengelola rampasan perang untuk dijadikan dana revolusi. Selanjutnya Teuku Markam benar-benar menggeluti dunia usaha dengan sejumlah aset berupa kapal dan beberapa dok kapal di Palembang, Medan, Jakarta, Makassar, Surabaya. Bisnis Teuku Markam semakin luas karena ia juga terjun dalam ekspor – impor dengan sejumlah negara.

Antara lain mengimpor mobil Toyota Hardtop dari Jepang, besi beton, plat baja dan bahkan sempat mengimpor senjata atas persetujuan Departemen Pertahanan dan Keamanan (Dephankam) dan Presiden.

Komitmen Teuku Markam adalah mendukung perjuangan RI sepenuhnya termasuk pembebasan Irian Barat serta pemberantasan buta huruf yang waktu itu digenjot habis-habisan oleh Soekarno.

Hasil bisnis Teuku Markam konon juga ikut menjadi sumber APBN serta mengumpulkan sejumlah 28 kg emas untuk ditempatkan di puncak Monumen Nasional (Monas). Sebagaimana kita tahu bahwa proyekMonas merupakan salah satu impian Soekarno dalam meningkatkan harkat dan martabat bangsa.

Peran Teuku Markam menyukseskan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Asia Afrika tidak kecil berkat bantuan sejumlah dana untuk keperluan KTT itu.

Teuku Markam termasuk salah satu konglomerat Indonesia yang dikenal dekat dengan pemerintahan Soekarno dan sejumlah pejabat lain seperti Menteri PU Ir Sutami, politisi Adam Malik, Soepardjo Rustam, Kaharuddin Nasution, Bustanil Arifin, Suhardiman, pengusaha Probosutedjo dan lain-lain. Pada zaman Soekarno, nama Teuku Markam memang luar biasa populer. Sampai-sampai Teuku Markam pernah dikatakan sebagai kabinet bayangan Soekarno.




 


0 komentar:

Posting Komentar